5 Film Horor Terbaik Sepanjang Masa ini Mana yang Menurut kamu Yang Paling Seraam

0
101

#suarandeso – Film Indonesia, seperti di negara lain, juga akrab dengan genre horor. Karena itu, industri film Indonesia telah menghasilkan banyak film horor, dari zaman dulu hingga sekarang. Genre film horor bahkan telah menciptakan seniman yang kemudian identik dengan genre ini, seperti Suzanna di masa lalu, atau sekarang Dewi Perssik.

Tidak seperti banyak film horor yang sering aneh dengan adegan-adegan lucu dan sensual, film horor Indonesia di masa lalu sama-sama mengerikan dan mencekam, ada banyak film lama yang masih diingat dan ditonton di sarang masa lalu. Terkait hal ini, ada lima film horor Indonesia yang dianggap terbaik sepanjang masa.

Bayi Ajaib (1982)

Bayi Ajaib adalah film horor Indonesia yang disutradarai oleh Tindra Rengat. Cerita ini adalah tentang persaingan antara Kosim (Muni Cader) dan Dorman (W.D Mochtar). Keduanya ingin menempati posisi sebagai desa, sehingga mereka bisa melakukan penambangan berlian di desa.

Dorman meminta bantuan kepada roh leluhurnya. Di sisi lain, istri Kosim, Sumi (Rina Hassim), berada dalam bentuk dua. Namun, seorang dukun (Wolly Satinah) berbau tidak teratur di rahim Sumi. Tentu saja, ketika bayi bernama Didi lahir, hal-hal aneh dan hal-hal buruk terjadi.

baca juga:  Via Vallen Mendapat Pelecehan ...., Oleh Pesepak Bola Nasional

Beranak Dalam Kubur (1971)

Reproduksi di Burial menjadi salah satu film yang paling fenomenal. Selanjutnya ada ratu horor Indonesia. Siapa lagi bukan Suzanna? Dalam film yang disutradarai oleh Awaludin, ia berkompetisi dengan Mieke Wijaya, Dicky Suprapto, dan Ami Prijono.

Mengatur tempat ini di sebuah desa bernama Ciganyar. Ada keluarga ayah, ibu, anak perempuan bernama Dhora, dan anak tiri bernama Lila.

Lila tinggal di kota dan memiliki keluarga. Suatu hari, dalam kehamilan, Lila pulang karena dia mendengar kematian ibu tirinya.

 

Kala (2007)

Kala adalah hasil dari film horor Indonesia 2007 yang disutradarai oleh Joko Anwar. Orang-orang juga menyebutnya Dead Time: Kala. Film ini sering mendapat komentar positif. Ketika dimainkan dengan licik oleh Fachri Albar, Ario Bayu, August Melasz, dan Shanty.

baca juga:  Kisah Mengharuhkan Maulidia Octavia dari Pengamen sampai Jadi Penyanyi Dangdut TOP Indonesia

Kasus hakim massal terhadap lima dianggap pencuri, mengangkat dua polisi, Eros (Ario Bayu) dan Hendro Waluyo (Agustus Melasz). Demikian juga Janus (Fachri Albar), seorang reporter narcolepsy yang jatuh ke dalam kasus.

Pencarian mereka menyebabkan berbagai peristiwa kematian atau kejadian aneh. Termasuk mengungkap sejarah harta yang sering disita petugas, mengungkap tokoh Ratu Adil, The Penidur, dan sebagainya.

 

Keramat (2009)

Film Keramat dirilis pada tahun 2009. Tidak ada skenario, naskah, atau film dari srcipt, jadi sutradara dan tim Moviesta Pictures benar-benar mengatur segalanya. Namun, pemain seperti Poppy Sovia, Migi Parahita, Sadha Triyudha, Miea Kusuma, dan lainnya, dapat melakukan peran ini dengan baik.

Film ini menceritakan kisah film berjudul Dancing on the Wind. Ceritanya, Diaz dan Migi adalah pemain utama. Pasukan di belakang layar terdiri dari Poppy dan Cungkring. Setelah itu ada Direktur Miea, asisten Sadha, dan Dimas sebagai Manajer Produksi.

baca juga:  Kenakan Niqab, Kartika Putri Merasa Diintimidasi Security Bandara

Mereka dari Jakarta kemudian pergi ke Bantul, Yogyakarta, untuk proses syuting. Di sana, peristiwa misterius itu harus dilalui.

Kuntilanak (2006)

Kuntilanak adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 2006. Film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani sudah memiliki sekuelnya, tetapi perdana sering dinilai sebagai kasar dan tak terlupakan. Bintang-bintang yang terlibat termasuk Julie Estelle, Evan Saners, Ratu Felisha, Ibn Jamil, Alice Iskak, dan Lita Suwardi.

Samantha atau Sam (Julie Estelle) harus meninggalkan rumah. Dia marah, karena dia selalu dilecehkan oleh ayah tirinya. Dia juga pindah ke rumah milik keluarga Mangkoedjiwo yang menjalankan bisnis batik.

Pemilik dan keturunan keluarga, Raden Ayu Sri Sukmarahimi Mangkoedjiwo, menceritakan berbagai kondisi di Sam sebelum menduduki rumahnya. Namun Sam melanggar salah satu aturan, yang membuatnya menjadi bencana. Serangkaian kejadian menakutkan dan kematian menyusul kemudian