Fenomena Kodokushi, Menjemput Mati Seorang Diri

0
66
Fenomena Kodokushi, Menjemput Mati Seorang Diri



suarandeso.com – Saat orang-orang akan menjemput ajal, biasanya sanak keluarga akan mengelilinginya. Anak-anak, kakak-adik, hingga sanak saudara. Tujuannya tentu agar orang yang akan meninggal bisa mati dengan tenang, mengetahui bahwa semua keluarganya telah siap melepasnya. Setidaknya, hal semacam itu masih banyak berlaku di sebagian keluarga di Indonesia.

Namun, di Jepang ada fenomena yang mungkin terdengar tidak lazim bagi masyarakat Indonesia, yaitu kodokushi. Kodokushi adalah istilah Jepang untuk menyebut orang yang mati sendirian, tanpa siapa pun menemani. Salah satu kisah terkait hal itu terjadi pada Haruki Watanabe.

Haruki Watanabe ditemukan meninggal oleh Toru Suzuki di apartemennya di pinggiran Osaka, Jepang. Kala itu, Suzuki datang mengunjungi Watanabe untuk menagih uang sewa yang tidak kunjung dibayar.

Sebagaimana dilaporkan oleh Slate, pria berusia 60 tahun tersebut tidak merespons meski Suzuki berkali-kali menelepon. Karena kesal, ia pun berangkat dari rumahnya di pusat Kota Osaka menuju tempat tinggal Watanabe. Alih-alih memperoleh uang sewa, ia justru mendapati mayat Watanabe yang telah membusuk hingga mengeluarkan bau tak sedap.

baca juga:  Heboh Video Robekan "Ini Alquran Bukan Uang" di Jakarta Selatan

Selama tiga bulan, jenazah Watanabe terbaring di atas seprai. Badannya penuh dengan cairan yang keluar dari tubuh akibat proses pembusukan. Ia meninggal diduga karena masalah jantung.

Watanabe tidak mempunyai teman dan istri. Anaknya tidak pernah berkomunikasi atau mengunjunginya selama bertahun-tahun. Ia meninggal seorang diri.

Yang dialami Watanabe disebut kodokushi atau meninggal dalam kesendirian. Menurut Reuters, kodokushi merupakan istilah lokal yang merujuk pada orang yang meninggal tanpa diketahui siapapun selama berhari-hari atau berbulan-bulan.

Jumlah kodokushi semakin banyak di Jepang. Independent melaporkan bahwa angka-angka statistik di daerah menunjukkan peningkatan tajam fenomena kodokushi selama satu dekade terakhir. Think tank asal Tokyo, NLI Research Institute, memperkirakan sebanyak 30.000 orang di Jepang meninggal dengan kondisi kodokushi. Berdasarkan laporan Reuters, satu dari empat orang yang mengalami kodokushi berusia di atas 65 tahun.

Jumlah penduduk lansia di Jepang saat ini melonjak drastis. Seperti yang dilaporkan BBC, ada 34,6 juta penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun, atau 27,3 persen dari total populasi pada 2016. Dari 34,6 juta orang, penduduk laki-laki berjumlah 14,99 juta jiwa dan perempuan 19,64 juta jiwa.

baca juga:  Inalillahi wa Inailahirojiun, 2 Anak Meninggal "Korban" Bagi-Bagi Sembako di Monas

Kodokushi terjadi pada lansia di Jepang karena mereka tinggal dan hidup sendirian. AFP melaporkan, jumlah rumah tangga dengan penghuni tunggal bertambah dua kali lipat menjadi 14,5 persen dari total penduduk dalam tiga dekade terakhir. Kenaikan itu didorong terutama oleh warga laki-laki berusia 50-an tahun serta perempuan berumur 80-an tahun ke atas.

Sebanyak 15 persen lansia di Jepang yang hidup sendiri mengatakan bahwa mereka hanya melakukan percakapan selama satu kali dalam seminggu. Angka tersebut, menurut pemerintah Jepang, terhitung besar dibandingkan dengan negara lain seperti Swedia (5 persen), Amerika (6 persen), dan Jerman (8 persen).

Meski begitu, kodokushi tidak hanya terjadi pada lansia. Japan Today melaporkan fenomena mati sendirian ini semakin banyak dijumpai di antara orang Jepang usia 20-an tahun dan 30-an tahun. Berdasarkan data Biro Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan Masyarakat pemerintah kota metropolitan Tokyo, sebanyak 238 orang berumur 20-an dan 30-an tahun ditemukan meninggal sendirian di 23 wilayah selama tahun 2015.

baca juga:  Viral, Sosok Mengaku Imam Mahdi di Monas Pemimpin Akhir Zaman

Sebanyak 80 persen kasus kodokushi adalah laki-laki. Selama tiga tahun terakhir, jumlah kodokushi di kalangan anak muda Jepang naik turun, namun rata-rata bertengger di angka 250 kasus.

“Di antara faktor-faktor terkait kematian sendirian di antara orang muda adalah meningkatnya ‘freeters’, yakni pekerja kontrak,” kata Yasuhiro Yuuki, profesor dari Dokkyo University.

“Bahkan jika mereka tidak muncul di tempat kerja selama beberapa hari berturut-turut, atasan mungkin tidak menyadarinya. Dan karena atasan itu menunjukkan sedikit perhatian terhadap pekerja tak tetap yang tidak bisa bekerja karena kondisi fisik yang buruk, sulit bagi mereka untuk peduli jika pekerja itu meninggal,” katanya.

Baca juga: Gara-gara Banyak Orang Mati Sendirian, di Jepang Ada Pekerjaan Baru