Tuntunan Lengkap Ibadah Puasa Nifsu Sya’ban

0
44

Umat Islam di Indonesia kedatangan bulan Sya’ban. Menyambut bulan yang tertulis sebelum Ramadhan ini, ada sebagian masyarakat yang melaksanakan ibadah-ibadah khusus. Salah satunya adalah puasa Sya’ban dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan, tidak sedikit masjid-masjid melalui mikrofon mengingatkan masyarakat agar tidak lupa menjalankan puasa tersebut. Bagaimana sebenarnya tuntunan puasa tersebut? Inilah penjelasannya…

Suatu hal yang sudah membudaya di masyarakat Islam, apabila bulan Sya’ban telah tiba, menyongsong Ramadhan, mereka banyak melakukan ibadah-ibadah khusus, semisal puasa yang selajutnya dikenal dengan puasa Sya’ban, shalat dan dzikir khusus pada pertengahan bulan, yang selanjutnya dikenal dengan shalat Nisfu Sya’ban, dan lain-lain. Karena masalah ini adalah ibadah mahdhah yang secara prinsip harus mengacu pada sunnah Nabi saw, maka kita harus berdasarkan pada nash yang shahih agar terhindar dari bid’ah.

Menurut beberapa riwayat, Rasulullah saw pernah melakukan puasa Sya’ban, tetapi tidak ajeg atau tidak istiqamah. Riwayat-riwayat itu antara lain sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُهُ إِلاَّ قَلِيلاً بَلْ كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ

Aisyah meriwayatkan, katanya: Aku tidak melihat Rasulullah saw dalam satu bulan yang lebih banyak berpuasa pada bulan tersebut, selain puasa di bulan Sya’ban, yaitu beliau  pernah puasa Sya’ban, yang bulan Sya’ban  itu hanya tinggal beberapa hari saja, bahkan pernah beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh. (HR Tirmidzi)

baca juga:  Baca Hadits Nabi Ini Kalau Gaji Kamu Langsung Habis di Tanggal Muda

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي النَّضْرِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Aisyah meriwayatkan, katanya: Rasulullah saw pernah berpuasa yang hingga kami mengatakan tidak pernah berbuka, (tetapi juga pernah tidak berpuasa) hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berpuasa, yaitu aku tidak melihat Rasulullah saw berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan, dan yang lebih banyak kulihat beliau berpuasa adalah puasa di bulan Sya’ban. (HR Bukhari)

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ حَدَّثَنَا سَالِمٌ أَبُو النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

Aisyah meriwayatkan, katanya: Pernah Rasulullah saw berpuasa hingga kami mengatakan tidak pernah berbuka, tetapi pernah juga beliau tidak berpuasa hingga kami katakan beliau tidak pernah berpuasa; dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan, juga aku tidak pernah melihat bulan yang lebih banyak beliau berpuasa selain puasa di bulan Sya’ban. (HR Ahmad)

baca juga:  4 Mitos yang Dipercaya Masyarakat Tentang Mati di Bulan Ramadhan

Dan masih banyak lagi riwayat yang sama dan senada yang dibawakan oleh ulama ahli hadits, semisal Muslim, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan lain-lain, yang semuanya bersumber dari Aisyah.

Intinya, Rasulullah saw pernah berpuasa di bulan Sya’ban, kadang-kadang sebulan penuh, kadang-kadang tidak penuh, kadang-kadang beberapa hari saja dan kadang-kadang tidak sama sekali. Namun yang menjadi masalah adalah puasanya itu apakah memang puasa khusus Sya’ban atau puasa-puasa sunnat yang ada. Itu yang lebih banyak dikerjakannya di bulan Sya’ban daripada di bulan-bulan lain.

Kalau dilihat dari kalimat ”berpuasa penuh”, maka itu berarti puasa khusus, namanya puasa Sya’ban, semisal Ramadhan. Tetapi, kalau dilihat dari kalimat ”lebih banyak berpuasa”, maka menunjukkan puasanya Nabi itu adalah puasa-puasa sunnat  yang ada.

Dan kalau alternatif (ihtimalat) itu kita padukan (ala thariqatil jam’i), maka dapat disimpulkan berikut. Pertama, jika mau puasa Sya’ban, maka puasa Sya’ban itu harus sebulan penuh. Kedua, jika tidak sebulan penuh, tetapi ingin banyak berpuasa, maka berpuasa sunat yang ada, semisal Senin-Kamis, ayyamul baidh, puasa Daud.

Jadi, tidak membuat puasa Sya’ban sendiri, sepekan misalnya atau tiga hari misalnya, dan seterusnya. Puasa semacam itu bid’ah, karena tidak ada contoh.

Namun puasa Sya’ban sebulan penuh, dengan redaksi bal kaana yashuumuhu kullahu (bahkan beliau pernah puasa sya’ban sebulan penuh), seperti riwayat Tirmidzi di atas, oleh Ibnul Mubarak dikatakan:

baca juga:  Heboh Video Robekan "Ini Alquran Bukan Uang" di Jakarta Selatan

وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ هُوَ جَائِزٌ فِي كَلاَمِ الْعَرَبِ إِذَا صَامَ أَكْثَرَ الشَّهْرِ أَنْ يُقَالَ صَامَ الشَّهْرَ كُلَّهُ

Bahwa penyebutan “kebanyakan” dengan “semuanya” yakni: Rasulullah puasa Sya’ban sebulan penuh, dengan arti kebanyakan berpuasa Sya’ban.

Hal itu memang dibenarkan dalam percakapan orang-orang Arab.  Misalnya dikatakan:

يُقَالُ قَامَ فُلاَنٌ لَيْلَهُ أَجْمَعَ وَلَعَلَّهُ تَعَشَّى وَاشْتَغَلَ بِبَعْضِ أَمْرِهِ

”Si Fulan shalat semalam penuh”, padahal sangat mungkin dia juga makan malam dan ada kesibukan-kesibukan yang lain.

كأَنَّ ابْنَ الْمُبَارَكِ قَدْ رَأَى كِلاَ الْحَدِيثَيْنِ مُتَّفِقَيْنِ يَقُولُ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ كَانَ يَصُومُ أَكْثَرَ الشَّهْرِ

Seolah-olah Ibnul Mubarak memandang dua hadits (penuh dan kadang-kadang) itu sama. Sehingga makna hadits-hadits tersebut adalah “Bahwa Rasullah saw kebanyakan berpuasa di bulan Sya’ban.”

Pendapat Ibnul Mubarak ini kelihatannya lebih rasional (ma’qul), karena memang tidak ada puasa sebulan penuh selain Ramadhan, berdasarkan ayat ayyamam ma’duudaat (puasa Ramadhan itu dalam beberapa hari yang telah dihitung, 29 atau 30 hari), dan juga firman Allah walitukmilul ‘iddata (maka sempurnakanlah puasa itu sampai sebulan penuh). Keduanya termaktub dalam QS al-Baqarah ayat 183-185.

Kesimpulannya, puasa Sya’ban secara khusus tidak ada, apalagi sampai ditentukan mulai tanggal-tanggal tertentu. Sementara puasa Sunat, seperti Senin-Kamis, Daud, ayyamul baidh, dan sejenisnya di bulan Sya’ban itu baik-baik saja, berdasar anjuran Nabi untuk berpuasa di bulan-bulan haram.

Tuntunan ini diolah dari buku Islam dalam Kehidupan Keseharian, karya KH Mu’ammal Hamidy (Surabaya: Hikmah Press, 2012)

sumber: https://pwmu.co/6544/05/06/bagaimana-tuntunan-puasa-syaban/