Harus Tahu Ni Ce..ong, Si Pitung, Legenda Pejuang Islam Asal Betawi

0
176

Siapa yang tidak kenal Si Pitung yang punya teman bernama Dji-ih? Dia adalah tokoh pahlawan lokal asli dan sudah legendaris di benak orang-orang Betawi. Nama besarnya sangat terkenal di zamannya dan sangat ditakuti oleh lawan dan teman baiknya.

Dia adalah jenis “Robin-hood” asli dari Indonesia. Si Pitung selalu membela orang kecil dari penindasan dan pendudukan Perusahaan. Untuk VOC, Pitung adalah TERORIS dan berpotensi ancaman terbesar bagi kelangsungan mereka di Batavia pada waktu itu.

Inilah Sejarah Legenda Pitung
Si Pitung lahir di daerah Pengumben, di sebuah desa di Rawabelong yang saat ini terletak di sekitar Stasiun Kereta Api Palmerah. Ayahnya bernama Bang Piung dan ibunya bernama Mpok Pinah. Si Pitung menerima pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin, seorang pedagang kambing.

Pitung adalah yang termuda dari tiga bersaudara, pasangan Piun dan Pinah. Berdasarkan cerita rakyat (cerita rakyat) yang masih hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar untuk belajar di langgar (mushala) di desa Rawa Belong. Dia, menurut istilah Betawi, orang yang mendengarkan Kate.

Ia juga sangat ringan hati untuk mengambil pelajaran agama yang diberikan oleh ustadz-nya, untuk dapat membaca (tilawat) Al-Qur’an. Selain belajar agama, dengan H Naipin, Pitung – seperti orang Betawi lainnya -, juga belajar seni bela diri. H Naipin, juga seorang guru tarekat dan maen punch. Masa mudanya, dihabiskan dengan mempelajari seni bela diri dengan pengawasan gurunya di Rawabelong selama belajar tentang silat.

Keagungan seni bela diri Pitung diuji setelah menjual kambing di Tanah Abang. Uang hasil penjualan itu dicuri oleh segerombolan pemuda. Terjadi perkelahian dengan sekelompok pencopet. Dalam beberapa saat, semua pencopet desa tergeletak di tanah. Melihat kebesaran korban, kawanan pencopet itu bahkan meminta agar Pitung menjadi pemimpin mereka.

Menjadi pemimpin pencopet, Pitung mulai bertindak. Tapi kali ini korban bukan warga biasa karena dia pernah berjanji untuk membela yang lemah. Selama mempelajari silat, Pitung merasakan kehidupan orang Betawi dan Belanda (Eropa) sangat kontras. Di belakang para penjajah yang disebut tuan besar, termasuk tuan tanah yang mewah, Pitung melihat penderitaan orang-orang kecil di sekitarnya.

Ini adalah kondisi yang membuatnya suka merampok orang kaya dan tuan tanah, yang mengikat para petani dengan berbagai peledakan (pajak). Hasil perampokannya dibagikan kepada orang miskin.

Menurut Damardini (1993: 148) dalam Van Till (1996):

baca juga:  Cerdas Analisa Mustofa Nahra di ILC "Semua By Skenario"

Pitung memang seorang perampok. Mungkin Haji Samsudin dipukuli saat itu. Jika menurut istilah sekarang, Pitung adalah pembuat onar, teroris dan dicari oleh Pemerintah. Pitung jahat. Pekerjaannya merampas dan memeras orang kaya. Menurut berita, hasil perampokannya didistribusikan di antara orang miskin. Tetapi sebenarnya tidak. Tidak ada perampok yang mau membagikan hasil perampokannya secara gratis, bukan? Menurut berita, Pitung menyumbangkan uangnya ke masjid. Saat itu masjid itu hanya di Pekojan, Luar Batang, dan Kampung Sawah. Tidak ada bukti bahwa Pitung menyumbangkan uangnya di sana. 

Pitung yang menjadi karakter sebagai versi Betawi dari Robin Hood dikembangkan oleh Lukman Karmani (Till, 1996). Karmani menulis novel Si Pitung. Dalam novel ini, diceritakan bahwa Si Pitung sebagai pahlawan sosial.

Menurut Rahmat Ali, & # 39; Pitung sebagai tokoh cerita Betawi masa lalu dikenal sebagai perampok, tetapi hasil perampokan digunakan untuk membantu orang yang menderita. Dia adalah Robin Hood Indonesia. Namun demikian pihak berwenang tidak mentolerir, orang yang bersalah harus tetap diberi hukuman yang tepat (Rahmat Ali 1993: 7).

Berbagai pro dan kontra selubung belakang cerita legenda Si Pitung, tetapi pada dasarnya karakter Si Pitung adalah refleksi dari pemberontakan sosial oleh “Betawi” melawan penguasa waktu itu, Belanda.

Apakah ini benar atau tidak, kisah Si Pitung begitu manis terdengar dari generasi ke generasi oleh orang Betawi sebagai tanda pembebasan sosial dari para kolonialis. Ini ditunjukkan dari Rancak Pitung di atas bagaimana Si Pitung sangat ditakuti oleh pemerintah Belanda pada waktu itu.

Pada tahun 1892, Pitung dan kawanannya ditangkap oleh polisi setelah Kepala Desa Kebayoran yang menerima 50 ringgit (Hindia Olanda 26-8-1892: 2) memberikan saran untuk menangkap Si Pitung. Setelah ditangkap kurang dari setahun kemudian, pada musim semi tahun 1893, Pitung dan Dji-ih berencana melarikan diri dengan cara misterius dari para tahanan Meester Cornelis.

Investigasi kemudian dilakukan oleh Asisten Residen sendiri, tetapi tidak berhasil. Karena insiden itu, Kepala Penjara diduga melepaskan Pitung dan Dji-ih.

Akhirnya Petugas Penjara mengakui bahwa ia meminjamkan belat (semacam tusuk jarum penguntit) ke Si Pitung, yang kemudian digunakan untuk membongkar atap dan memanjat dinding (Hindia Olanda, 25-4-1893: 3; Lokomotief 25 -4 1893: 2). Akibatnya, Si Pitung lepas lagi.

Berdasarkan desas-desus, Pitung pernah muncul pada seorang wanita di perahu dengan nama Prasman. Detektif berusaha menemukan kapal (Indian Olanda, 12-5-1893: 3), tetapi hasil Pitung tidak dapat ditemukan. Karena kesulitan menemukan dan menangkap Pitung, harga untuk Pitung meningkat menjadi 400 Gengster.

baca juga:  Berkah Sholat Tahajud, Polisi Berhasil Menangkap Pembunuh Sadis yang Selalu Pakai Jimat Ini

Pemerintah Belanda pada waktu itu ingin menembak mati Pitung di tempat, tetapi beberapa pejabat mengatakan bahwa jika Pitung ditembak maka akan menumbuhkan jiwa patriotik, sehingga niat ini (19659002) Sebagai tindakan balas dendam, Pitung melakukan kekerasan pencurian termasuk dengan menggunakan senjata api. Akhirnya Pitung dan Dji-ih membunuh seorang polisi cerdas bernama Djeram Latip (Indies Olanda 23-9-1893: 2).

Dia juga mencuri dari wanita pribumi, Mie, termasuk pakaian pria dan pistol revolver dengan peluru. Pernyataan ini didukung oleh Ny. De C, seorang pedagang perempuan di Kali Besar yang menyatakan bahwa Pitung mencuri sebuah sarung senilai ratusan gulden dari kapalnya (Hindia Belanda 22-11-1892: 2).

Dji-ih direbut kembali di kampung halamannya ketika menderita penyakit. Saat itu Dji-ih kembali ke kampung halamannya untuk berobat. Lalu dia pindah ke rumah orang tua yang diketahui. Kepala desa pada saat itu (Djoeragan) melaporkannya kepada Demang kemudian memerintahkan tentara untuk menangkap Dji-ih di rumahnya. Karena dia terlalu sakit, dia tidak berdaya untuk melawan, meskipun pada waktu itu pistol itu dalam jangkauan (Indies Olanda 19-8-1893: 2).

Dia menyerah tanpa perlawanan. Untuk menutupi hal ini maka Pemerintah Belanda meluncurkan di Java-Bode (15-8-1893: 2) bahwa Dji-ih melarikan diri ke Singapura. Informan yang bertanggung jawab melaporkan Dji-ih kemudian ditembak mati oleh Pitung di tempat yang tidak jauh dari Batavia beberapa minggu kemudian.

Itoe djoeragan koetika ketemoe Si Pitoeng betoelan di tempat yang sepi, Si djoeragan menyentil Si Pitoeng dan dari tjipetnja Suku Pitoeng mengambil pestolnja dari pinjang, lalu menembak itoe djoeragan ke tempat itoe mati djoega.  (Indies Olanda 1-9-1893: 2.)

Beberapa bulan kemudian, pada bulan Oktober, Kepala Polisi Hinne belajar dari informan bahwa Pitung terlihat di Kampung Bambu, desa antara Tanjung Priok dan Meester Cornelis. Kemudian dalam perjalanannya Hinne diberitahu bahwa Pitung telah pindah ke kuburan di Tanah Abang (Hindia 18-10-1893).

Kemudian, Hinne menembaknya dalam penyergapan. Pitung menembak di tangan, lalu Pitung menjawab. Hinne menembak untuk kedua kalinya, tetapi gagal, dan peluru ketiga menghantam dadanya dan menjatuhkannya ke tanah. Sehari setelah kematiannya, Senin, mayat itu dibawa ke pemakaman Kampung Baru pada pukul 17:00

Setelah Hinne menangkap Pitung, Setahun kemudian dia dipromosikan ke Kapolda Tanah Abang untuk mengawasi siapa le Metropolitan Batavia-Weltevreden.

baca juga:  Calon Pengantin ini dapat Uang Panai Rp 150 Juta, Mobil dan Rumah, Ternyata ini Penyebabnya

Setelah kejadian tersebut Pemerintah Hindia Belanda mencegah agar “Pitung-Pitung” lainnya tidak terjadi lagi di Batavia. Bahkan karena ketakutannya terhadap makam Si Pitung setelah kematiannya, ia dijaga oleh Pemerintah Belanda untuk tidak dikunjungi oleh orang-orang pada waktu itu.

Berdasarkan legenda, Si Pitung dapat dibunuh oleh Belanda dengan berbagai argumen yang disebutkan di atas. Menurut Indies Olanda (18-10-1893: 2), sebelum ditangkap Pitung dengan potongan rambut, beberapa jam sebelum kematiannya pada hari Sabtu.

Seperti legenda yang menceritakan bahwa keajaiban Si Pitung hilang karena jimatnya diambil film Si Pitung Banteng Betawi), tetapi yang menarik, versi lain menyatakan bahwa Si Pitung dapat “dilemahkan” jika dipotong oleh rambut. Menurut surat kabar Hidia Olanda dikatakan bahwa sebelum kematiannya Si Pitung telah memotong rambut.

Rumah Si Pitung yang terletak di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, diperkirakan dibangun pada abad ke-19. Karena keberaniannya melawan penjajah Belanda menjadikan nama Pitung menjadi cikal bakal masyarakat hari itu hingga sekarang.

Di mana makam Si Pitung sekarang? Elder Rawabelong, Nur Ali Akbar (65) ketika ditemukan bebas di rumahnya, Jalan Yahya, RT 2, RW, 7, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (8/9).

“Ya ada makam Pitung, pahlawan nyata Rawabelong. Di depan kantor Telkom,” kata tetua Rawabelong, Nur Ali Akbar

Lebih lanjut, meskipun tidak ada bukti otentik, seperti sebagai batu nisan yang memberikan informasi tentang siapa yang dimakamkan, seorang pria yang juga seorang seniman bela diri Betawi, Cingkrik yakin jika yang dikubur itu adalah Pitung, Robin Hood Betawi

“Dari kisah ayahnya sang kakek dari ziarah itu, di kuburan, Pitung dimakamkan. ”

Meskipun tidak mengetahui tanggal dan tahun kapan tepatnya Pitung meninggal, Haji Nunung membantah jika Pitung memiliki ilmu Rawa Rontek, seperti yang telah beredar. Karena menurut ilmu Rawa Rontek adalah ajaran agama Hindu.

Melihat kondisi makam itu menyedihkan. Dari pantauan merdeka.com, seperti kondisi makam yang dijelaskan di atas, Pitung beristirahat juga tidak memiliki juru kunci makam. Bahkan untuk membersihkan dedaunan bambu yang jatuh, terkadang petugas Telkom mengambil inisiatif sendiri untuk membersihkannya.

Untuk itu, Haji Nunung berharap kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta khususnya, pemerintah Jakarta Barat untuk memperhatikan makam Pitung. Perhatian yang dia harapkan, pemerintah ingin membangun semacam monumen.

Sumber: dakwahmedia.my.id