Syar’i, 7 Hal Perlu Diketahui Dari Adopsi Secara Islami, Hukum Adopsi Secara Islam

0
118

Syar’i, Ada satu pertanyaan dari keresahan seorang istri karena ingin mengadopsi anak setelah bertahun-tahun menikah belum dikaruniai momongan. Saat dikomunikasikan dengan suami, betapa terkejutnya saat suaminya tidak setuju dengan adopsi itu, katanya “Adopsi itu haram dalam Islam”.

Artikel ini ingin meluruskan pandangan mengenai hal tersebut, sekaligus memberikan pemahaman yang tepat mengenai adopsi yang salah kaprah di mata masyarakat.

Islam, membolehkan seseorang memungut anak untuk di asuh, dididik dan diberikan hak yang sama dengan anak-anak lainnya. Bahkan, untuk anak-anak yatim yang tidak diketahui orangtuanya, atau anak-anak miskin yang sudah jelas orangtuapun Islam tetap membolehkan.

Bahkan itu dianggap sebagai sarana untuk menolong anak-anak Islam memperoleh pengasuhan, pendidikan, kebutuhan primer dan sekunder yang terpenuhi oleh orangtua angkatnya, yang kelak anak mengangkat derajatnya, derajat orangtua kandungnya sekaligus orangtuanya dan tentu akan menjadi pribadi yang lebih baik dalam memperjuangkan dakwah Islam.

Dalam adopsi, tidak begitu saja dilakukan oleh calon orangtua angkat. Ada beberapa peraturan yang cukup ketat didalam Islam, untuk membuktikan jika adopsi dalam Islam tidak sama dengan mengambil anak orang lain untuk dijadikan anak sendiri.

Ilustrasi ibu menggendong bayi sumber gambar 

Untuk itu cermati 7 hal yang perlu diketahui dari adopsi secara Islami berikut ini:

1. Nasab Anak Tetap Melekat Padanya
Bukan seperti pada jaman jahilillah Arab dahulu, dimana nasab anak tergantikan dengan orangtua angkatnya, dan diberi hak tanpa kecuali pada anak tersebut sampai hak waris juga, dan hal ini jelas salah.

Nasab anak tetap melekat pada garis keturunannya. Bukankah saat diakherat nanti anak akan dipanggil dengan nama ayahnya, bukan ayah angkatnya?

Untuk itu jangan sesekali adopsi anak dengan menghilangkan nasab orangtuanya dengan mengganti nama orangtua pada akte anak dengan nama pengadopsi.

2. Anak Angkat Tidak Berhak Mendapat Warisan
Dalam hal ini memang hukum waris Islam tidak memasukkan anak angkat sebagai ahli waris. Pada masa jahiliyah, dimana anak anak angkat mendapat waris bahkan menghalangi ahli waris sebenarnya, menimbulkan perselisihan yang cukup serius.

Maka, Islam datang dengan meluruskan tentang hal itu. Lalu bagaimana menyikapinya jika orangtua angkat meninggal? Bisa dengan cara diberi hibah, atau berwasiat pada anak angkat untuk mendapatkan bagian, namun jumlahnya tidak boleh lebih dari sepertiga dari jumlah harta waris.

3. Ada Batas Kemahroman Pada Anak Angkat
Meski sudah diasuh sejak bayi, anak angkat bukanlah mahromnya. Maka tetap ada batasan melihat bagi anggota keluarga lainnya pada anak angkat.

Ini yang kurang disadari oleh banyak orangtua angkat, yang merasa karena sudah dianggap anak sendiri dalam hal perilaku, membuka aurat bahkan saling sentuh walau anak sudah remaja atau dewasa terbiasa dilakukan. Padahal hal itu sebenarnya terlarang dalam Islam.

4. Hak Perwalian Nikah
Saat anak angkat siap menikah, hak perwaliannya tetap pada ayah kandungnya atau kakek atau saudara laki-lakinya. Orangtua angkat tidak punya hak perwalian, meski orangtua dan kerabatnya tidak diketahui sekalipun, maka wali hakim yang akan menjadi perwaliannya.

5. Mantan Istri  Dari Anak Angkat Halal Untuk Dinikahi
Hal ini menunjukkan jika anak angkat itu memang berbeda dengan anak kandung, dimana bekas istri anak kandung haram hukumnya dinikahi.

Peristiwa Rasulullah yang menikahi mantan istri Zaid bin Haritsah,  yakni Zainab yang menjadi perbincangan dikalangan masyarakat kala itu, karena dianggap Rasulullah menikahi mantan istri anaknya yang haram hukumnya.

Padahal Zaid adalah anak angkat, bukan anak kandung dan ini beda.

“Dan (ingatlah) ketika engkau berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau juga telah memberi kenikmatan kepadanya (Zaid bin Haritsah). ‘Tahanlah untukmu istrimu dan takutlah kepada Allah’, dan engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah tampakkan, dan engaku takut kepada manusia, padahal Allahlah yang lebih berhak engaku takuti. Maka tatkala Zaid memutuskan untuk mencerai Zainab, Kami (Allah) nikahkan engkau dengan dia, supaya tidak menjadikan beban bagi orang-orang mukmin tentang bolehnya mengawini bekas istri anak-anak angkatnya apabila mereka itu telah memutuskan mencerainya, dan kepustusan Allah pasti terlaksana.” (Al-Ahzab [33] : 37).

baca juga:  NGERiii, Satu Bagian Tubuh ini Kalau Tidak Terjaga Bakal Terus Menabung Dosa bagi Kita

6. Mengadopsi Anak, Berarti Mendidik dan Memelihara
Jika ada seseorang yang mengadopsi anak yatim atau anak yang terlantar juga miskin dengan tujuan untuk memuliakan mereka dengan mendidik dan memelihara yang baik, itu pahala bagi pengadopsi.

Namun jika ada tujuan lain yang menguntungkan diri sendiri, seperti asuransi, menguasai harta anak yatim atau bahkan niatan buruk lainnya, maka hal tersebut merupakan dosa besar.

Beberapa kasus anak adopsi malah tidak diasuh dengan baik bahkan keadaannya memprihatinkan, karena dibedakan dengan anak sendiri, bahkan kerap dijadikan ‘pembantu’ atau di siksa, maka celaka bagi mereka yang menyia-nyiakan anak yatim atau anak adopsi, karena neraka bersiap menanti.

7. Pahala yang Luarbiasa Besar Bagi Orang yang Mau Mengadopsi Anak Yatim Atau Anak Miskin
Mereka yang memiliki sikap luhur demikian akan mendapatkan penghargaan yang tinggi dalam Islam dan mendapatkan pujian luarbiasa. Rasulullah sampai-sampai memberikan pengandaian yang sangat indah bagi yang mengadopsi anak-anak yatim ini:

“Saya akan bersama orang yang menanggung anak yatim seperti ini, sambil ia menunjuk jari telunjuk dan jari tengah, lalu ia renggangkan antara keduanya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan, tidak ada dosa bagi orang yang mau mengadopsi anak-anak miskin, terlantar atau yatim, bahkan pahala mengalir deras untuknya.

Tentu, dengan 7 hal perlu diketahui dari adopsisecara Islami tadi, diharapkan kesalahpahaman seputar adopsi dapat diminimalisir. Moga manfaat! Sumber: candradewojati.com

Hukum Mengadopsi Anak

Kalau seorang ayah sudah tidak diperbolehkan memungkiri nasab anak yang dilahirkan di tempat tidurnya, maka begitu juga ia tidak dibenarkan mengambil anak yang bukan berasal dari keturunannya sendiri. Itu dalam arti, menjadikan anak tersebut berada dalam nasab si pemungut.

Orang-orang Arab di masa jahiliyah dan begitu juga bangsa-bangsa lainnya banyak yang menisbatkan orang lain dengan nasabnya dengan sesukanya, dengan jalan mengambil anak angkat. Realitas itulah yang ditentang dalam Islam.

Dalam Islam, seorang laki-laki boleh memilih anak-anak kecil untuk dijadikan anak, kemudian diproklamirkan. Maka, si anak tersebut menjadi satu dengan anak-anaknya sendiri dan satu keluarga, sama-sama senang dan sama-sama susah, memiliki hak-hak yang sama, terkecuali dalam soal warisan, kemahroman, batasan melihat, dan memperlihatkan aurat, dan hak perwalian nikah.

Mengangkat seorang anak seperti ini sedikit pun tidak dilarang. Kendati si anak yang diangkat itu jelas-jelas mempunyai ayah yang mungkin sudah wafat sehingga menjadi yatim, atau masih hidup tapi tak mampu mengasuhnya, dan nasabnya pun sudah dikenal.

Islam datang, sedang masalah pengangkatan anak ini tersebar luas di masyarakat Arab, sehingga Nabi Muhammad sendiri mengangkat seorang anak, yaitu Zaid bin Haritsah sejak zaman jahiliyah. Zaid waktu itu seorang anak muda yang ditawan sejak kecil dalam salah satu penyerbuan jahiliyah, yang kemudian dibeli oleh Hakim bin Hizam untuk diberikan kepada bibinya yang bernama Khodijah, dan selanjutnya diberikan oleh Khodijah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah beliau menikah dengannya.

Setelah ayah dan pamannya mengetahui tempatnya, kemudian mereka meminta Zaid kepada Nabi, namun Zaid disuruh oleh Nabi untuk memilih. Dan, Zaid lebih senang memilih Nabi sebagai ayah daripada ayah dan paman kandungnya sendiri. Lantas oleh Nabi ia dimerdekakan, lalu diangkat sebagai anaknya sendiri dan disaksikan oleh orang banyak. Sejak itu Zaid dikenal dengan nama Zaid bin Muhammad, dan ia termasuk bekas budak yang pertama kali masuk Islam.

 

Bagaimana Pandangan Islam terhadap Peraturan Jahiliyah Ini?

Islam berpendapat secara pasti bahwa pengangkatan anak dalam konteks seperti itu, tidak lain adalah bentuk pemalsuan terhadap realitas, pemalsuan yang menjadikan seseorang terasing dari lingkungan keluarganya. Dia dapat bergaul bebas dengan perempuan keluarga baru itu dengan dalih sebagai mahrom, padahal hakikatnya mereka itu sama sekali orang asing. Istri dari ayah yang memungut bukan ibunya sendiri, begitu juga anak perempuannya, saudara perempuannya atau bibinya. Dia sendiri sebenarnya orang asing dari semuanya itu.

baca juga:  Inilah 5 Golongan Orang Rajin Sholat Tapi Kok Masuk Neraka?

Anak angkat dalam pemahaman jahiliyah pemahaman jahiliyah itu dapat menerima warisan dan menghalangi keluarga dekat asli yang mestinya berhak menerimanya. Oleh karena itu, tidak sedikit keluarga yang sebenarnya merasa dengki terhadap orang baru yang bukan dari kalangan mereka ini, yang merampas hak milik mereka dan menghalangi warisan yang telah menjadi harapannya. Kedengkian ini banyak sekali membangkitkan hal-hal yan tidak baik, dapat menyalakan api fitnah, serta memutus hubungan famili dan kekeluargaan.

Akhirnya, Al-Qur’an menghapus aturan jahiliyah ini, sehingga mengadopsi anak untuk memiliki hak penuh sama dengan anak-anak kandung diharamkan untuk selama-lamanya. Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Allah tidak menjadikan  anak-anak angkatmu itu sebagai anak-anakmu sendiri, yang demikian itu adalah omongan-omonganmu dengan mulut-mulutmu, sedang Allah berkata dengan benar dan Dialah yang menunjukan ke jalan yang bapak-bapak mereka, sebab itu lebih lurus di sisi Allah. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka mereka itu adalah saudaramu seagama dan kawan-kawanmu.” (Al-Ahzab [33] : 4-5).

Baiklah kita renungkan ungakapan Al-Qur’an yang bersih ini, yaitu kalimat, “Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu itu sebagai anak-anakmu sendiri, yang demikian itu adalah omongan-omonganmu dengan mulut-mulutmu”. Kalimat ini memberikan pengertian, bahwa pengakuan anak angkat itu hanya omongan kosong, di belakangnya tidak ada realita sedikit pun.

Perkataan lidah tidak dapat mengganti kenyataan dan tidak dapat mengubah realita, tidak dapat menjadikan orang luar sebagai kerabat dan orang asing sebagai pokok nasab, serta tidak pula mengubah anak angkat sebagai anak sebenarnya.

Ucapan lisan tidak dapat mengalirkan darah ke dalam urat dan tidak dapat membentuk perasaan kebapakan ke dalam hati seseorang, serta tidak akan mampu mengalirkan dalam kalbu anak angkat jiwa kehalusan sebagai anak sebenarnya. Dia tidak dapat mewarisi keistimewaan-keistimewaan khusus dari ayah angkatnya dan cirri-ciri khusus keluarga barunya, baik yang bersifat jasmaniah, intelektual maupun kejiwaannya.

Islam telah menghapuskan seluruh konsekuensi yang ditimbulkan oleh aturan ini, misalnya tentang warisan dan dilarangnya kawin dengan bekas istri anak angkat.

Dalam masalah warisan, karena tidak ada hubungan darah, perkawinan dan kerabat yang sebenarnya, maka oleh Al-Qur’an hal itu sama sekali tidak bernilai dan tidak menjadi penyebab mendapat warisan. Bahkan Al-Qur’an menegaskan(yang artinya), “Keluarga sebagian mereka lebih berhak terhadap sebagian yang lain menurut Kitabullah.” (Al-Anfal [8] :75).

Dan dalam hal perkawinan, Al-Qur’an telah mengumandangkan bahwa di antara perempuan-perempuan yang haram dinikahi ialah bekas istri anak sebenarnya, bukan bekas istri anak angkat. Firman Allah(yang artinya), “Dan bekas istri-istri anakmu yang berasal dari tulang rusukmu sendiri.” (An-Nisa’ [4] : 24).

Oleh karena itu seseorang dibenarkan menikah dengan bekas istri anak angkatnya, karena perempuan tersebut pada hakikatnya adalah bekas istri orang lain. Justru itu tidak salah jika ia menikahinya, apabila telah dicerai oleh suaminya.

Peraturan Anak Angkat Dihapus dengan Praktik, Setelah Dihapus Melalui Penegasan Lisan

Di masyarakat Arab persoalan ini tidak begitu mudah, sebab masalah anak angkat sudah menjadi aturan masyarakat dan berakar dalam kehidupan bangsa Arab. Oleh karena itu, dalam kebijaksanaan Allah untuk menghapus dan memusnahkan pengaruh-pengaruh peraturan ini tidak cukup dengan penuturan lisan saja, bahkan dihapusnya dengan penegasan ucapan dan sekaligus dengan praktik.

Hikmah kebijaksanaan Allah dalam persoalan ini telah memilih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelakunya, untuk menghilangkan setiap keragu-raguan dan menolak setiap keberatan orang mukmin tentang dibolehkannya menikahi bekas istri anak-anak angkatnya. Juga, supaya mereka yakin bahwa apa yang disebut halal adalah semua yang dihalalkan Allah, dan apa yang disebut haram adalah semua yang diharamkan Allah.

Zaid bin Haritsah yang kita kenal sebagai Zaid bin Muhammad, telah dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy, sepupu Nabi sendiri. Namun, kehidupan mereka berdua selalu goncang. Zaid sendiri sudah banyak mengadu kepada Nabi tentang keadaan istrinya, dan Nabi sendiri juga mengetahui bahwa Zaid ingin menceraikannya. Maka, dengan wahyu Allah, Zainab kelak akan dinikahi oleh Nabi. Nabi takut bertemu dengan orang banyak, maka beliau berkata kepada Zaid, “Tahanlah istrimu itu dan takutlah kepada Allah”.

Di sinilah ayat Al-Qur’an kemudian turun untuk menegur sikap Nabi. Dan seketika itu beliau menyingsingkan lengan bajunya untuk tampil ke tengah-tengah masyarakat, guna menghapus sisa-sisa aturan kuno dan tradisi yang usang, yang mengharamkan seseorang menikahi bekas istri anak angkatnya yang pada hakikatnya ia adalah orang asing. Maka, Allah menegaskan (yang artinya), “Dan (ingatlah) ketika engkau berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau juga telah memberi kenikmatan kepadanya (Zaid bin Haritsah). ‘Tahanlah untukmu istrimu dan takutlah kepada Allah’, dan engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah tampakkan, dan engaku takut kepada manusia, padahal Allahlah yang lebih berhak engaku takuti. Maka tatkala Zaid memutuskan untuk mencerai Zainab, Kami (Allah) nikahkan engkau dengan dia, supaya tidak menjadikan beban bagi orang-orang mukmin tentang bolehnya mengawini bekas istri anak-anak angkatnya apabila mereka itu telah memutuskan mencerainya, dan kepustusan Allah pasti terlaksana.” (Al-Ahzab [33] : 37).

baca juga:  Cara Taubat Orang yang Sengaja Meninggalkan Sholat

Kemudian Al-Qur’an meneruskan untuk melindungi pribadi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perbuatan ini, memperkuat alasannya dan menghilangkan anggapan dosa karena perbuatan itu. Maka, ditegaskan dalam Al-Qur’an (yang artinya), “Tidak boleh ada keberatan atas diri Nabi dalam hal yang telah diwajibkan oleh Allah kepadanya menurut sunatullah pada orang-orang yang telah lalu sebelumnya, sebab perintah Allah itu suatu ketentuan yang telah ditentukan, (yaitu) orang-orang yang menyampaikan suruhan Allah dan mereka takut kepada-Nya, dan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah; dan cukuplah Allah sebagai pengira. Tidaklah Muhammad itu ayah bagi seseorang laki-laki kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup bagi sekalian Nabi, dan Allah Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu.” (Al-Ahzab [33] : 38-40).

Mengangkat Anak dengan Arti Mendidik dan Memelihara

Begitulah, budaya mengangkat anak yang dihapus oleh Islam, yaitu bila seseorang menisbatkan anak kepada dirinya secara nasab, padahal ia tahu bahwa ia itu anak orang lain. Anak tersebut terus dinisbatkan kepada dirinya dan keluarganya, sehingga ia memiliki seluruh hak anak kandung; bebas bergaul, menjadi mahrom, haram dinikahi dan berhak mendapat warisan.

Di sini ada semacam pengangkatan anak yang diakui oleh beberapa orang, tetapi pada hakikatnya bukan pengangkatan anak yang diharamkan oleh Islam. Yaitu seorang ayah memungut seorang anak kecil yatim atau mendapatkan di jalanan, kemudian dijadikan seperti anaknya sendiri, baik dalam hal kasih sayangnya, pemeliharaannya maupun pendidikannya. Anak itu diasuh, diberinya makan, diberinya pakaian, diajar dan diajak bergaul seperti anaknya sendiri. Tetapi bedanya, dia tidak menasabkan anak itu pada dirinya dan tidak diperlakukan padanya hukum-hukum anak seperti tersebut di atas.

Ini suatu cara yang terpuji dalam pandangan agama Allah. Siapa yang mengerjakannya akan beroleh pahala kelak di surge. Seperti yang dikatakan sendiri oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya, “Saya akan bersama orang yang menanggung anak yatim seperti ini, sambil ia menunjuk jari telunjuk dan jari tengah, lalu ia renggangkan antara keduanya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Laqith (anak yang dipungut di jalan) sama dengan anak yatim. Tetapi untuk anak seperti ini lebih patut dinamakan ibnu sabil (anak jalan) yang oleh Islam kita dianjurkan untuk memeliharanya.

Apabila seseorang yang memungutnya itu tidak mempunyai keluarga, kemudian ia bermaksud akan memberikan hartanya itu kepada anak pungutnya tersebut, maka ia dapat menyalurkan melalui cara hibah sewaktu ia masih hidup, atau dengan jalan wasiat dalam batas sepertiga pusaka, sebelum ia meninggal dunia.

Disalin ulang dari buku “Bersanding dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga“, karya Ust. Abu Umar Basyir, penerbit: Mumtaza Artikel Muslimah.or.id