Abu al Wafa’, Tokoh Islam di Bidang Matematika yang Mencerahkan Peradaban Non Muslim Eropa

0
441

Bukan rahasia umum, ada banyak ilmuwan muslim yang berjasa besar dalam memajukan peradaban yang menjadi landasan bagi manusia modern. Sumbangsih mereka meliputi berbagai hal seperti ilmu pengetahuan, teknik, sosial ekonomi dan politik. Salah satu yang paling berjasa adalah sosok Abu al Wafa’. Ia dikenal sangat jenius pada bidang matematika dan astronomi.

Selain pandai, dunia berterima kasih atas jasanya menemukan Rumus Identitas Trigonometri yang banyak digunakan di bidang arsitektur dan pendidikan modern. Ia juga sangat ahli dalam ilmu astronomi, pergerakan bintang dan benda langit. Karya-karta itulah yang kini banyak diaplikasikan oleh seluruh negara maju di dunia. Sahabat Boombastis pun bisa mengambil hikmahnya dari kisah sang Dewa Matematika berikut ini.

Bakat jenius yang terlihat sejak kecil

Abu al-Wafa’ yang mempunyai nama lengkap Muhammad bin Yahya bin Ismail bin al-‘Abbas Abu al-Wafa’ al-Buzjani, lahir pada 1 Ramadan 328 H atau 10 Juni 940 M. Sedari kecil, ia telah menunjukan tanda-tanda kejeniusan pada dirinya. Hal ini terlihat dari besarnya minat Abu al-Wafa’ kecil mempelajari ilmu pengetahuan.

baca juga:  5 Hal Ini Bukti Kenapa Marquez Lebih Baik Diberhentikan dari Ajang MotoGP
Dikenal jenius sejak kecil [sumber gambar]

Dia belajar ilmu matematika dari pamannya, Abu Umar al-Maghazli, dan Abu Abdullah Muhammad Ibn Ataba. Sedangkan di bidang geometri, ia mengenalnya dari Abu Yahya al-Marudi dan Abu al-Ala’ Ibn Karnib. Luar biasa ya Sahabat Boombastis.

Pimpin lembaga ilmuwan terkemuka di Baghdad, Irak

Abu al Wafa’ menghabiskan masa mudanya dengan bersekolah di kota kelahirannya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pada 959 M, ia yang saat itu berusia 19 tahun pindah ke Baghdad. Memutuskan untuk belajar di sana dan menetap selama 40 tahun.

Pimpin lembaga ilmu astronomi di Baghdad [sumber gambar]

Baghdad menjadi pilihan karena merupakan kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Berbekal kecerdasan yang dimilikinya membuat Abu al Wafa’ diangkat oleh pihak kerajaan untuk memimpin observatorium astronomi yang ada di kota tersebut.

Karyanya yang mencerahkan peradaban eropa dan dunia

Selain karya Abu al-Wafa’ yang sangat banyak dibidang matematika dan astronomi, beberapa dari kitab ilmu pengetahuannya diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Salah satunya yang berjudul Al-kamil. Dimana telah ditransliterasikan menjadi bahasa Perancis oleh Carra de Vaux pada 1892.

baca juga:  Jodoh Tak Ada yang Tahu, Bagaimana Jika Mantan Menikah dengan Adik Sendiri
Karya fenomenal bagi peradaban dunia [sumber gambar]

Tak hanya itu, Abu al Wafa juga telah berjasa memperbaiki kekeliruan teori Ptolemeus mengenai gerak Bulan pada kitab klasik terkenal, Almagest. Sosoknya bahkan ditahbiskan sebagai ilmuwan penemu yang meneliti bagian kedua eveksi Bulan oleh sarjana Perancis pada abad 19, L.A. Sedillot.

Temukan rumus trigonometri yang dipakai hingga kini

Salah satu kontribusi terbesar dari Abu al-Wafa’ adalah menemukan rumus Trigonometri. Di mana metode ini digunakan untuk mengembangkan fungsi tangen dan menemukan cara untuk menghitung tabel trigonometri.
Ilmu ini memiliki peran yang sangat vital di dunia matematika modern.

Temukan rumus Trigonometri [sumber gambar]

Para arsitek diwajibkan menguasai Trigonometri agar dapat membuat pondasi bangunan yang sesuai. Semua dilakukan dan diukur sesuai kaidah baku yang dicetuskan oleh Abu al Wafa’.

Sosok ilmuwan yang sangat produktif

Abu al Wafa dikenal sebagi imuwan jenius yang banyak menelurkan karya-karya ilmiah dalam bentuk buku. Menurut Jay Boomer (2017), ia mendefiniskan buah pemikiran Abu al Wafa menajadi tiga bidang pengetahuan yang dikuasainya. Pertama, karya tulis yang menjelaskan rumus-rumus ilmuwan muslim lain seperti teori aljabar versi Deofantos, Abarchos, dan Al-Khawarizmi.

baca juga:  Inilah 4 Fakta Racun Kalajengking yang Ternyata Harganya Tidak Mahal-mahal Amat
Produktif dalam menghasilkan karya tulis [sumber gambar]

Kedua, ia jugs dmengarang semacam buku panduan yang ditujukan untuk kalangan pekerja teknis. Diantaranya adalah al-Handsa (Geometri Terapan), Al-Kitab al-Kamil (Buku Lengkap), dan Ilm al-Hisab (Buku Praktis Aritmatika). Ketiga, Abu al Wafa’ berbagi pengetahuan astronominya lewat kitab berjudul al-Majesty dan al-Zayj.

Terlepas dari kondisi umat Islam di zaman modern saat ini, jasa para ilmuwan muslim di masa lalu banyak memberikan kontribusi yang besar bagi peradaban manusia. Tak hanya sekedar merubah, tapi juga mempengaruhi perkembangan teknologi yang beriringan dengan kemajuan zaman.

The post Abu al Wafa’, Tokoh Islam di Bidang Matematika yang Mencerahkan Peradaban Non Muslim Eropa