Belati Firaun Berasal dari Luar Angkasa, Terbuat Dari…

0
133

Para ilmuwan berhasil mengungkap bahan pembuat belati yang ditemukan pada mumi Firaun Tutankhamun. Berdasarkan penelitian, diketahui bahan senjata terkenal milik King Tut itu terbuat dari luar angkasa: meteorit!

Menurut hasil analisa para ilmuwan, yang dipimpin oleh Daniela Comelli –profesor ilmu material di Polytechnic University, Milan, Italia, menunjukkan belati itu mengandung 10 persen nikel dan 0,6 persen kobalt.

Analisis yang dipaparkan di jurnal Meteoritics and Planetary Science itu menggunakan teknik yang disebut X-ray fluorescence. Teknik ini mengidentifikasi elemen berbeda dari karakteristik warna cahaya X-ray yang dikeluarkan bahan itu saat disorot dengan energi X-ray yang lebih tinggi.

Komposisi hasil analisa itu kemudian dibandingkan dengan belati yang terbuat dari 11 logam meteorit dan ternyata hasilnya mirip.

Pisau belati ini ditemukan oleh arkeolog Howard Carter pada tahun 1925, tiga tahun setelah penemuan makam Tutankhamun. Pisau ini ditemukan di dalam pembungkus mumi, tepat di paha kanan mumi Tutankhamun.

Pisau ini cukup indah. Pada bagian gagang terbuat dari emas dan diukir cantik. Di pangkal gagang, terdapat batu kristal. Pisau ini memiliki rangka yang terbuat dari emas, diukir dengan motif bunga lili di satu sisi, buli di sisi lain, dan kepala serigala.

Belati ini diyakini dibuat pada abad ke-14 Sebelum Masehi, dan menjadi sedikit dari artefak logam yang ditemukan dari budaya Mesir kuno. Padahal sebelumnya diduga bahwa peleburan besi belum dikenal sebelum abad ke-8 SM.

“ Masalah dengan pengolahan besi terkait dengan titik lebur tinggi (1.538 C). Karena itu, pandai besi awal tidak bisa melelehkan bijih untuk mengekstrak besi dan tidak bisa menempa besi menjadi senjata,” tulis Comelli, dikutip Dream dari CBS News, Kamis 2 Juni 2016.

baca juga:  8 Tips Hidup Sehat Ala Rasulullah SAW

Pada tahun 1907, Pangeran Carnarvon George Herbert meminta seorang arkeolog inggris sekaligus ahli kimia Howard Carter untuk mengawasi proses penggalian di situs Mesir kuno di Lembah Para Raja.

Pada tanggal 4 November 1922, kelompok Carter ini berhasil menemukan petunjuk yang mengarah pada keberadaan makam Tutankhamun. Mereka kemudian menghabiskan waktu selama berbulan – bulan untuk menelusuri petunjuk itu.

Hingga akhirnya pada Februari 1923 mereka berhasil menemukan sarkofagus, tempat yang digunakan untuk menyimpan mumi.

Inilah awal dari temuan makam Tutankhamun atau King Tut.

Ia merupakan seorang firaun Mesir dari dinasti ke 18, dan memerintah antara 1332 SM dan 1323 SM. Dia diketahui merupakan putra Akhenaten dan naik tahta pada usia sembilan atau sepuluh tahun.

Saat dia menjadi raja, dia menikahi saudara tirinya, Ankhesenpaaten. Dia meninggal pada usia 18 tahun dan penyebab kematiannya tidak diketahui.

Adapun bersamaan dengan temuan itu, ditemukan pula sejumlah artefak berlapis emas.

Uniknya, berdasarkan penelitian Profesor Peter Pfalzner, dari Universitas Tubingen di Jerman, diketahui bahwa artefak-artefak itu bukan dibuat di Mesir. Melainkan berasal dari Suriah Kuno.

Kesimpulan itu diperoleh dari hasil penelitian terhadap motif artefak yang berbeda.

“Ini sekali lagi menunjukkan peran besar yang dimainkan oleh orang-orang Siria kuno dalam penyebaran budaya selama Zaman Prunggahan,” katanya sebagaimana dilansir Mail Online.

Fakta menarik lainnya yakni keberadaan artefak yang bahan dasarnya ternyata bukan berasal dari bumi.

Dikutip dari Live Science, beberapa artefak itu antara lain pisau belati dan perhiasan yang terbuat dari material langka pada zaman perunggu.

Menurut sebuah penelitian terbaru, perajin kuno membuat artefak logam ini dengan material besi dari luar angkasa yang dibawa ke bumi oleh meteorit.

baca juga:  5 Fakta Ustadz Abdul Somad, yang Membuatnya Tak Masuk daftar Mubalig Kemenag

Albert Jambon, seorang ilmuwan arkeologi-Prancis dan seorang profesor di Universitas Pierre dan Marie Curie, di Paris menyimpulkan bahwa para perajin kuno ini tahu benar bahan apa yang paling bagus untuk dijadikan perhiasan atau senjata. Sehingga mereka pun mencari batu meteorit untuk mendapatkan material tersebut.

“Besi dari Zaman Perunggu itu berasal dari meteorit, ini membantah anggapan bahwa mereka melakukan peleburan besi di zaman perunggu,” tulis Jambon dalam penelitian tersebut.

Ia yang sudah melakukan pengujian terhadap belati kuno, termasuk yang berasal dari makam Tutankhamun, menemukan fakta sebenarnya.

Melalui pemindaian spektrometri sinar-x (XRF), diketahui bahwa belati kuno itu terbuat dari material yang mengandung hampir 11 persen nikel dan jejak kobalt.

Sebuah komposisi yang merupakan karakteristik besi dari luar angkasa yang ditemukan di banyak meteorit besi yang telah jatuh ke Bumi.

Sebagian besar meteorit besi yang menghancurkan Bumi setiap tahun diperkirakan terbentuk di inti logam planetesimals – badan kecil di cakram cakram protoplanet yang mengorbit matahari pada tahap awal tata surya.

Akibatnya, meteorit ini mengandung kadar nikel atau kobalt tinggi.

Sebaliknya, zat besi yang berasal dari proses peleburan mengandung kurang dari 1 persen nikel atau kobalt, jauh lebih kecil dari tingkat yang ditemukan di batuan ruang yang kaya zat besi.

Jambon menggunakan penganalisis XRF portabel untuk memindai benda besi kuno lainnya dan meteor besi di museum, serta besi dalam koleksi pribadi di Eropa dan Timur Tengah.

Penelitiannya menunjukkan bahwa semua besi di artefak yang diuji berasal dari meteorit, dan bukan dari peleburan terrestrial.

baca juga:  Mengejutkan Pernyataan Ustad Abdul Somad ini, Semua Masuk Surga FPI Juga

Temuan tersebut menunjukkan bahwa meteorit besi adalah satu-satunya sumber logam utama sampai ditemukannya besi peleburan dari bijih besi terestrial, yang kali pertama dipraktikan sekitar 3200 tahun yang lalu di Anatolia dan Kaukasus.

Albert Jambon juga pernah meneliti benda besi paling kuno yang pernah ditemukan, semisal butiran besi lembaran dari Gerzeh di Mesir, bertanggal 3200 SM. Sebuah kapak dari Ugarit di pantai utara Suriah, bertanggal 1400 SM. Sebuah belati dari Alaça Höyük di Turki, bertanggal 2500 SM, dan tiga benda besi dari makam Tutankhamun, tertanggal 1350 SM, berikut belati, gelang dan sandaran kepala.

Namun begitu, sejumlah arkeolog mengatakan bahwa artefak – artefak itu bisa saja dibuat dari besi peleburan pada 2000 tahun sebelum teknologinya tersebar pada masa awal zaman besi. Bisa karena tak disengaja, atau karena memang dari hasil eksperimen.

Akan tetapi Albert Jambon mengatakan berdasarkan temuan penelitian, tidak ada bukti kuat bahwa besi peleburan dikenal hingga zaman besi sekitar 1200 SM.

Sementara tunggu peleburan besi tertua yang pernah ditemukan, berasal dari tahun 930 SM di Tell Hammeh, Yordania.

“Kami tahu dari teks bahwa selama Zaman Perunggu, besi dinilai 10 kali lipat lebih berharga dari emas,” katanya.

“[Tapi] di awal Zaman Besi, harganya turun drastis menjadi kurang dari tembaga, dan inilah alasan mengapa besi menggantikan perunggu dengan cukup cepat,” tambahnya.

Analisisnya juga menunjukkan bahwa belati, gelang dan sandaran Tutankhamun setidaknya terbuat dari besi dua jenis meteorit yang berbeda.

Hal ini menunjukkan bahwa ada proses pencarian aktif yang dilakukan untuk menemukan meteorit besi yang berharga di zaman kuno.